Pelabuhan merupakan simpul utama dalam rantai logistik yang menghubungkan berbagai wilayah dan negara dalam perdagangan global. Salah satu proses paling krusial dalam operasional pelabuhan adalah cargodoring. Cargodoring adalah kegiatan pemindahan barang dari dermaga ke gudang atau tempat penumpukan di pelabuhan, atau sebaliknya, sebagai bagian dari rangkaian kegiatan bongkar muat.
Proses ini tidak hanya menentukan seberapa cepat barang berpindah, tetapi juga berdampak langsung pada keselamatan kerja dan kondisi barang yang ditangani. Karena itu, tenaga kerja yang terlibat, termasuk Loading Master untuk penanganan muatan curah harus memiliki kompetensi yang sesuai standar nasional melalui sertifikasi BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi).
Artikel ini membahas apa itu cargodoring, fungsinya dalam operasional pelabuhan, tahapan prosesnya, peran Loading Master di dalamnya, faktor yang mempengaruhi biayanya, serta pentingnya sertifikasi kompetensi bagi tenaga kerja pelabuhan.
Apa Itu Cargodoring?

Cargodoring adalah salah satu bagian dari rangkaian kegiatan bongkar muat di pelabuhan. Secara spesifik, cargodoring mencakup pemindahan barang dari dermaga ke tempat penumpukan sementara (gudang atau lapangan penumpukan) di dalam area pelabuhan, atau dari tempat penumpukan tersebut kembali ke dermaga.
Dalam praktik bongkar muat di Indonesia, prosesnya umumnya dibagi menjadi tiga tahap yang berurutan:
- Stevedoring — pemindahan barang dari kapal ke dermaga (atau sebaliknya) menggunakan crane atau alat bongkar muat kapal.
- Cargodoring — pemindahan barang dari dermaga ke gudang/lapangan penumpukan, atau sebaliknya.
- Receiving/Delivery — penyerahan barang dari gudang/lapangan penumpukan ke alat angkutan darat penerima, atau sebaliknya.
Karena posisinya di tengah rangkaian ini, cargodoring membutuhkan tenaga kerja yang terampil menangani berbagai jenis barang, baik curah (gandum, batu bara, minyak) maupun barang dalam kontainer serta mampu mengoperasikan alat berat secara hati-hati untuk menghindari kerusakan barang dan kecelakaan kerja.
Fungsi Cargodoring dalam Operasional Pelabuhan
Cargodoring memainkan peran penting dalam efisiensi operasional pelabuhan. Proses ini menentukan seberapa cepat barang bisa dipindahkan dari dermaga ke sistem penumpukan atau transportasi darat. Berikut kontribusinya:
1. Mempercepat Distribusi Barang
Semakin cepat barang dipindahkan dari dermaga ke gudang, semakin tinggi produktivitas pelabuhan. Ini membantu mengurangi waktu sandar kapal, yang pada akhirnya menekan biaya operasional pemilik kapal dan menambah kapasitas pelabuhan dalam menangani volume barang.
2. Mengurangi Risiko Kerusakan Barang
Cargodoring yang dilakukan dengan prosedur yang benar membantu menjaga kualitas barang. Kesalahan penanganan bisa menyebabkan kerusakan yang berujung pada kerugian finansial bagi pemilik barang maupun operator pelabuhan.
3. Menjaga Keselamatan Kerja
Pelabuhan adalah area berisiko tinggi karena melibatkan alat berat dan kondisi lingkungan yang dinamis. Prosedur cargodoring yang baik, didukung tenaga kerja kompeten, membantu meminimalkan risiko kecelakaan kerja.
4. Meningkatkan Daya Saing Pelabuhan
Pelabuhan dengan proses cargodoring yang cepat dan efisien lebih menarik bagi perusahaan pelayaran dan logistik, sehingga mendorong pertumbuhan jumlah kapal yang berlabuh dan volume barang yang diproses.
Baca juga: Sertifikasi TKBM
Proses Cargodoring: Tahapan dari Dermaga ke Gudang
Setelah barang diturunkan dari kapal ke dermaga melalui proses stevedoring, cargodoring berlangsung melalui beberapa tahapan berikut:
- Penerimaan barang di dermaga — barang hasil bongkar dari kapal diperiksa kondisi awal dan jumlahnya sebelum dipindahkan.
- Pengangkutan ke lapangan penumpukan/gudang — menggunakan alat angkut seperti forklift, trailer, atau conveyor, tergantung jenis barang.
- Penyusunan dan penataan barang — barang disusun (stacking) sesuai jenis, prioritas pengiriman, dan ketentuan penyimpanan agar mudah diakses saat proses selanjutnya.
- Pencatatan dan verifikasi — dilakukan dokumentasi jumlah dan kondisi barang untuk kebutuhan administrasi dan pertanggungjawaban.
- Penyerahan lanjutan — barang siap diteruskan ke proses receiving/delivery, yaitu pemuatan ke alat angkutan darat untuk dikirim ke tujuan akhir.
Untuk muatan curah cair atau curah kering dalam jumlah besar, tahapan ini biasanya diawasi langsung oleh seorang Loading Master untuk memastikan proses berjalan aman dan sesuai spesifikasi.
Peran Loading Master dalam Proses Cargodoring
Loading Master adalah profesi yang bertanggung jawab mengawasi dan mengoordinasikan proses pemuatan (loading) maupun pembongkaran (unloading) muatan, terutama muatan curah cair (minyak, gas, bahan kimia) dan curah kering dalam volume besar. Dalam konteks cargodoring, keberadaan Loading Master sangat menentukan kelancaran dan keamanan proses pemindahan barang.
Beberapa tugas utama Loading Master dalam proses cargodoring antara lain:
- Menentukan dan mengawasi loading rate agar proses pemuatan/pembongkaran berjalan aman dan sesuai kapasitas alat maupun kapal.
- Melakukan verifikasi kualitas dan kuantitas muatan agar sesuai spesifikasi yang disepakati.
- Mengoordinasikan pihak kapal, operator alat, dan petugas gudang selama proses berlangsung.
- Menjaga penerapan prosedur keselamatan kerja (K3), khususnya untuk muatan berisiko tinggi.
- Menyusun dokumentasi dan laporan hasil pemuatan/pembongkaran untuk kebutuhan administrasi dan klaim jika diperlukan.
Karena tanggung jawabnya yang besar, seorang Loading Master idealnya memiliki Pelatihan dan Sertifikasi Loading Master yang diakui, agar kompetensinya terverifikasi sesuai standar industri dan regulasi yang berlaku.
Baca juga: Pentingnya Pelatihan Keselamatan Kerja bagi TKBM
5. Biaya Cargodoring: Faktor-Faktor yang Mempengaruhi
Biaya cargodoring bervariasi antar pelabuhan dan operator terminal, karena ditentukan oleh tarif resmi yang berlaku di masing-masing lokasi. Namun secara umum, beberapa faktor berikut memengaruhi besaran biayanya:
- Jenis dan volume barang — barang curah, kontainer, dan barang umum (general cargo) memiliki skema penanganan dan tarif yang berbeda.
- Jarak dan waktu tempuh — jarak antara dermaga dan lokasi penumpukan/gudang mempengaruhi durasi dan biaya angkut.
- Jenis alat yang digunakan — penggunaan forklift, trailer, atau alat berat lain menambah komponen biaya sewa dan operasional alat.
- Biaya tenaga kerja — mengacu pada tarif TKBM yang berlaku di masing-masing pelabuhan, biasanya ditetapkan otoritas pelabuhan atau koperasi/asosiasi TKBM setempat.
- Lama waktu penumpukan — jika barang disimpan lebih lama dari batas waktu bebas (free time) yang ditentukan, akan timbul biaya tambahan (storage/demurrage).
- Kompleksitas penanganan — muatan berbahaya atau curah cair yang memerlukan pengawasan Loading Master umumnya memiliki komponen biaya pengawasan tambahan.
Untuk mendapatkan angka pasti, disarankan mengecek tarif resmi yang dipublikasikan oleh otoritas pelabuhan atau operator terminal terkait, karena tarif ini bisa berbeda-beda dan berubah dari waktu ke waktu.
Pentingnya Sertifikasi BNSP bagi Tenaga Kerja Cargodoring
BNSP adalah lembaga yang bertugas mengawasi dan mengeluarkan sertifikasi profesi bagi tenaga kerja di Indonesia. Dalam bidang cargodoring, sertifikasi BNSP memastikan tenaga kerja yang terlibat memiliki kompetensi sesuai standar nasional yang berlaku.
1. Meningkatkan Keterampilan dan Kompetensi
Melalui program sertifikasi, tenaga kerja mendapatkan pelatihan yang mencakup teknik pemindahan barang yang aman, pengoperasian alat berat, serta prosedur keselamatan kerja, sehingga dapat bekerja lebih efektif dan efisien.
2. Mengurangi Risiko Kecelakaan Kerja
Sertifikasi memastikan tenaga kerja memahami standar keselamatan kerja yang berlaku, sehingga angka kecelakaan di pelabuhan dapat ditekan.
3. Meningkatkan Kepercayaan Industri
Tenaga kerja bersertifikat BNSP dianggap lebih kompeten dan profesional, sehingga meningkatkan kepercayaan perusahaan dan membuka peluang kerja yang lebih luas.
4. Memenuhi Standar Nasional dan Internasional
Pelabuhan yang ingin beroperasi sesuai standar nasional maupun internasional perlu memastikan tenaga kerjanya memiliki sertifikasi yang diakui, termasuk melalui program Pelatihan dan Sertifikasi TKBM.
Baca juga: ROI Investasi Sertifikasi TKBM
Proses Mendapatkan Sertifikasi BNSP
Untuk mendapatkan sertifikasi BNSP di bidang cargodoring, tenaga kerja umumnya melalui tahapan berikut:
- Pelatihan dan Pembelajaran
- Peserta mengikuti pelatihan yang mencakup teori dan praktik terkait cargodoring.
- Materi meliputi teknik bongkar muat, pengoperasian alat berat, serta prosedur keselamatan kerja.
- Ujian Kompetensi
- Peserta diuji untuk menilai pemahaman dan keterampilan dalam cargodoring.
- Ujian dapat berupa tes tertulis dan praktik langsung di lapangan.
- Sertifikasi dan Evaluasi
- Peserta yang lulus ujian akan mendapatkan sertifikasi dari BNSP yang berlaku secara nasional.
- Sertifikasi ini memiliki masa berlaku tertentu dan dapat diperbarui melalui pelatihan tambahan.
Kesimpulan
Cargodoring adalah proses penting dalam operasional pelabuhan yang menjembatani kegiatan bongkar muat antara dermaga dan gudang penumpukan. Fungsinya mencakup mempercepat distribusi barang, menjaga keamanan muatan, hingga meningkatkan daya saing pelabuhan. Prosesnya melibatkan beberapa tahapan yang membutuhkan ketelitian, sementara biayanya dipengaruhi berbagai faktor mulai dari jenis barang hingga lama penumpukan.
Baca juga: Apa Itu TKBM? Mengenal Peran Tugas dan Tanggung Jawabnya
Untuk muatan curah, peran Loading Master menjadi krusial dalam memastikan proses pemuatan dan pembongkaran berjalan aman dan sesuai standar. Di sisi lain, tenaga kerja cargodoring secara umum juga perlu memiliki kompetensi yang terverifikasi melalui sertifikasi BNSP.
Dengan tenaga kerja yang terlatih dan bersertifikat, baik TKBM maupun Loading Master, industri pelabuhan Indonesia dapat memiliki sistem bongkar muat yang lebih efisien, aman, dan mampu bersaing dengan negara lain.











