Dalam kegiatan logistik dan kepelabuhanan, biaya merupakan komponen penting yang perlu dipahami oleh perusahaan, khususnya bagi pihak HR maupun pengguna jasa yang terlibat langsung dalam pengelolaan rantai pasok. Salah satu biaya yang sering muncul dalam operasional adalah biaya penumpukan di pelabuhan.
Biaya penumpukan terjadi ketika barang atau peti kemas (kontainer) disimpan sementara di area penumpukan terminal sebelum keluar dari kawasan pelabuhan. Apabila proses pengeluaran barang mengalami keterlambatan, biaya penumpukan dapat meningkat secara progresif dan menjadi beban tambahan bagi perusahaan.
Oleh karena itu, memahami cara menghitung biaya penumpukan di pelabuhan sangat penting untuk menghindari pembengkakan biaya logistik, meningkatkan efisiensi operasional, serta membantu perusahaan mengambil keputusan yang tepat dalam manajemen pelabuhan dan terminal. Artikel ini akan mengulas komponen biaya penumpukan, langkah-langkah perhitungan, contoh perhitungan peti kemas, hingga bagaimana pelatihan Port Academy dapat mendukung kompetensi SDM dalam mengelola biaya operasional pelabuhan secara efektif.
Komponen Utama Biaya
1. Tarif Dasar Pelayanan Jasa Penumpukan
Komponen pertama dalam perhitungan biaya penumpukan adalah tarif dasar pelayanan jasa penumpukan yang ditetapkan oleh terminal atau operator pelabuhan. Tarif ini biasanya dihitung per hari dan dapat berbeda tergantung:
- Jenis peti kemas (20 feet, 40 feet, reefer, dsb.)
- Jenis muatan (umum, berbahaya, curah tertentu)
- Kebijakan terminal atau operator pelabuhan
Tarif dasar menjadi acuan utama karena biaya penumpukan pada dasarnya merupakan biaya penyimpanan barang di area terminal. Dalam konteks manajemen biaya, memahami tarif dasar sangat membantu perusahaan untuk memperkirakan pengeluaran logistik sejak awal.
2. Masa Gratis (Free Time)
Sebagian terminal memberikan masa gratis atau free time, yaitu periode tertentu di mana barang atau peti kemas dapat berada di area penumpukan tanpa dikenakan biaya. Masa gratis ini biasanya berlaku pada hari-hari awal setelah peti kemas diturunkan dari kapal.
Namun perlu dipahami bahwa:
- Free time tidak selalu sama di setiap terminal
- Ada terminal yang hanya memberi free time untuk jenis layanan tertentu
- Ketentuan free time dapat berubah sesuai kebijakan operator
Masa gratis menjadi aspek penting dalam cara menghitung biaya penumpukan di pelabuhan karena menentukan kapan biaya mulai dihitung.
3. Tarif Progresif/Tambahan
Setelah masa gratis berakhir, biaya penumpukan biasanya tidak lagi flat, melainkan progresif. Artinya, semakin lama barang tertahan di terminal, tarifnya akan meningkat.
Tarif progresif bertujuan untuk:
- Menghindari penumpukan berlebih di lapangan penumpukan
- Mendorong pengguna jasa segera mengeluarkan barang
- Mengoptimalkan kapasitas terminal
Dalam perhitungan, tarif progresif sering dibagi menjadi beberapa periode, misalnya:
- Hari 1–3 setelah free time: tarif dasar
- Hari 4–7: tarif naik sekian persen
- Hari berikutnya: tarif lebih tinggi lagi
Karena itu, keterlambatan pengeluaran peti kemas dapat menyebabkan biaya membengkak secara signifikan.
4. Terminal Handling Charges (THC)
Selain biaya penumpukan, terdapat juga Terminal Handling Charges (THC), yaitu biaya penanganan peti kemas di terminal. THC mencakup aktivitas seperti:
- Pemindahan kontainer dari dermaga ke lapangan penumpukan
- Pengaturan posisi kontainer (shifting)
- Penanganan kontainer sebelum keluar terminal
Meskipun THC bukan bagian inti dari “penumpukan”, dalam praktiknya biaya ini sering muncul bersamaan dalam invoice terminal. Karena itu, THC perlu dipahami sebagai komponen tambahan dalam total biaya logistik.
Langkah-langkah Perhitungan (Contoh Petikemas)
1. Tentukan Hari Penumpukan
Langkah pertama dalam cara menghitung biaya penumpukan di pelabuhan adalah menentukan jumlah hari penumpukan. Hari penumpukan dihitung sejak peti kemas diturunkan dari kapal (atau sejak tanggal tertentu sesuai ketentuan terminal) hingga peti kemas keluar dari terminal.
Pada tahap ini, perusahaan perlu memastikan:
- Tanggal masuk peti kemas ke area penumpukan
- Tanggal keluar peti kemas dari terminal
- Ketentuan perhitungan hari (apakah termasuk hari libur atau tidak)
Kesalahan dalam menentukan hari penumpukan akan berpengaruh langsung terhadap total biaya yang harus dibayarkan.
2. Cari Tarif Terminal
Setelah hari penumpukan ditentukan, langkah berikutnya adalah mencari tarif terminal yang berlaku. Tarif ini umumnya dapat diperoleh melalui:
- Website resmi terminal
- Dokumen tarif yang diberikan operator
- Sistem digital terminal
Tarif terminal dapat berbeda untuk setiap jenis kontainer, sehingga penting memastikan tarif yang digunakan sesuai dengan jenis peti kemas dan layanan yang digunakan.
3. Hitung Biaya Harian
Tahap selanjutnya adalah menghitung biaya harian berdasarkan tarif dasar, masa gratis, dan tarif progresif. Jika terminal memberikan free time, maka biaya hanya dihitung setelah periode gratis berakhir.
Sebagai contoh:
- Free time: 3 hari
- Peti kemas keluar di hari ke-6
- Maka biaya dihitung untuk hari ke-4 sampai hari ke-6
Jika tarif progresif berlaku, maka biaya harian perlu dihitung berdasarkan kategori hari penumpukan yang sesuai.
4. Jumlahkan Semua Biaya
Setelah biaya harian dihitung, langkah berikutnya adalah menjumlahkan seluruh biaya penumpukan sesuai hari yang dikenakan tarif. Ini merupakan inti dari cara menghitung biaya penumpukan di pelabuhan.
Total biaya penumpukan = Σ (tarif harian x jumlah hari pada periode tarif tersebut)
5. Tambahkan Biaya Lain
Terakhir, tambahkan biaya lain yang berkaitan, seperti THC, shifting, atau biaya administrasi terminal apabila ada. Total biaya logistik yang harus dibayarkan biasanya merupakan gabungan dari seluruh komponen tersebut.
Contoh Perhitungan
Agar lebih mudah dipahami, berikut contoh sederhana perhitungan biaya penumpukan peti kemas:
Asumsi:
- Jenis kontainer: 20 feet
- Tarif dasar penumpukan: Rp150.000/hari
- Free time: 3 hari
- Tarif progresif:
- Hari ke-4 sampai ke-5: Rp150.000/hari
- Hari ke-6 sampai ke-7: Rp200.000/hari
- THC: Rp500.000
Kasus:
Peti kemas keluar pada hari ke-7.
Perhitungan:
- Hari 1–3: Free time → Rp0
- Hari 4–5: 2 hari x Rp150.000 = Rp300.000
- Hari 6–7: 2 hari x Rp200.000 = Rp400.000
- Total penumpukan = Rp300.000 + Rp400.000 = Rp700.000
- Tambahkan THC = Rp700.000 + Rp500.000 = Rp1.200.000
Dari contoh ini terlihat bahwa keterlambatan beberapa hari saja dapat meningkatkan biaya secara signifikan, terutama karena adanya tarif progresif.
Bagaimana Sertifikasi Port Academy dapat Memfasilitasi Hal Ini
Memahami biaya penumpukan bukan hanya soal hitungan matematis, tetapi juga berkaitan dengan manajemen terminal, strategi pengelolaan kapasitas, serta efisiensi operasional. Perusahaan yang memiliki SDM kompeten akan lebih mampu:
- Mengurangi keterlambatan pengeluaran barang
- Mengoptimalkan penggunaan fasilitas terminal
- Mengendalikan biaya logistik agar tidak membengkak
Melalui program Manajemen Operator Terminal (BUP), Port Academy membantu peserta memahami operasional terminal secara menyeluruh, termasuk aspek pengelolaan biaya, efisiensi kapasitas, dan strategi layanan terminal. Informasi lengkap mengenai program ini dapat diakses melalui:
https://portacademy.id/program/manajemen-operator-terminal-bup/
Sebagai pendukung pemahaman operasional, perusahaan juga dapat mempelajari strategi meningkatkan efisiensi terminal melalui artikel berikut:
- https://portacademy.id/strategi-memaksimalkan-kapasitas-terminal/
- https://portacademy.id/langkah-langkah-mengoptimalkan-ruang-kapal/
Dengan pelatihan yang tepat, perusahaan dapat meningkatkan kemampuan SDM dalam mengelola terminal dan menekan biaya-biaya tambahan seperti penumpukan.
FAQ
Apa itu biaya penumpukan di pelabuhan?
Biaya penumpukan adalah biaya yang dikenakan ketika barang atau peti kemas disimpan sementara di area penumpukan terminal sebelum keluar dari pelabuhan.
Kapan biaya penumpukan mulai dihitung?
Biaya mulai dihitung setelah masa gratis (free time) berakhir, sesuai ketentuan terminal.
Mengapa biaya penumpukan bisa sangat tinggi?
Karena adanya tarif progresif. Semakin lama barang tertahan di pelabuhan, tarif per hari akan meningkat.
Bagaimana cara mengurangi biaya penumpukan?
Dengan mempercepat proses clearance, memastikan dokumen lengkap, serta mengoptimalkan koordinasi dengan terminal dan stakeholder terkait.