Setiap kali kapal merapat atau lepas sandar di pelabuhan, ada satu tim yang bekerja di balik layar untuk memastikan seluruh proses berjalan aman: Mooring Gang. Tim inilah yang bertanggung jawab menangani tali-tali besar dan berat yang menghubungkan kapal dengan dermaga, sebuah pekerjaan yang jauh lebih kompleks dan berisiko daripada yang terlihat sekilas.
Artikel ini membahas apa itu Mooring Gang, tugas dan tanggung jawabnya dalam proses Mooring & Unmooring, keterampilan yang wajib dikuasai, tahapan kerja di lapangan, risiko yang dihadapi, hingga jalur sertifikasi dan peluang kariernya.
Apa Itu Mooring Gang?

Mooring Gang adalah kelompok pekerja pelabuhan yang bertugas menangani tali tambat (mooring line) saat kapal sandar maupun saat akan berangkat. Mereka bekerja di sisi dermaga dan berkoordinasi langsung dengan awak kapal serta kapal tunda (tugboat) untuk memastikan kapal berada pada posisi yang stabil dan aman selama bersandar.
Pekerjaan ini menuntut kekuatan fisik, kecepatan reaksi, dan kedisiplinan tinggi terhadap prosedur keselamatan, karena tali tambat yang menahan kapal berbobot ribuan ton menyimpan energi yang sangat besar. Kesalahan kecil dalam penanganannya bisa berakibat fatal.
Tugas dan Tanggung Jawab Mooring Gang
1. Menangani Proses Mooring (Penambatan Kapal)
Saat kapal mendekati dermaga, Mooring Gang menerima tali pandu (messenger line) yang dilempar dari kapal, lalu menariknya untuk membawa tali tambat utama yang lebih berat ke darat. Tali tersebut kemudian dikaitkan ke bolder (bollard) dengan pola dan jumlah lilitan tertentu sesuai instruksi perwira kapal, agar gaya tarik terdistribusi merata dan kapal tidak bergeser akibat angin, arus, atau gelombang.
2. Menangani Proses Unmooring (Pelepasan Tali)
Saat kapal akan berlayar, urutan pelepasan tali menjadi hal krusial. Tali harus dilepas secara bertahap dan terkoordinasi dengan anjungan kapal agar kapal tidak bergerak tidak terkendali. Mooring Gang juga perlu memperhitungkan posisi tugboat yang membantu mendorong atau menarik kapal keluar dari dermaga.
3. Perawatan dan Pemeriksaan Peralatan
Di luar momen sandar dan berangkat, tim ini juga bertanggung jawab memeriksa kondisi tali, wire rope, bolder, serta fender di dermaga. Peralatan yang aus atau rusak wajib dilaporkan dan diganti sebelum digunakan kembali, karena kegagalan alat saat menahan kapal bisa berakibat fatal.
4. Komunikasi dengan Pihak Terkait
Mooring Gang harus terus berkomunikasi dengan mualim jaga di kapal, petugas pandu (pilot), operator tugboat, dan sesama anggota tim menggunakan radio VHF atau isyarat tangan, terutama pada kondisi visibilitas rendah atau kebisingan tinggi di dermaga.
Baca juga: Tugas dan Tanggung Jawab dalam Proses Mooring Unmooring
Keterampilan Penting yang Wajib Dimiliki Mooring Gang
1. Keterampilan Teknis Penanganan Tali
Anggota tim harus memahami karakteristik berbagai jenis tali tambat, mulai dari tali serat sintetis (nylon, polypropylene) hingga wire rope, termasuk batas beban aman (safe working load) masing-masing. Penguasaan teknik simpul, penggunaan capstan atau winch, serta cara mengatur tegangan tali sesuai kondisi pasang surut adalah kompetensi dasar yang mutlak dikuasai.
2. Kesadaran terhadap Snap Back Zone
Salah satu bahaya terbesar dalam pekerjaan ini adalah tali putus mendadak akibat tegangan berlebih. Tali yang putus dapat melecut dengan kekuatan besar (snap back) dan mencederai siapa pun yang berada di jalur lintasannya. Mooring Gang yang terlatih memahami zona berbahaya ini dan selalu memposisikan diri di luar jalur lecutan tali.
3. Kemampuan Membaca Kondisi Lingkungan
Arah dan kecepatan angin, arus, serta pasang surut air laut sangat memengaruhi pergerakan kapal saat sandar maupun lepas sandar. Anggota tim berpengalaman mampu memperkirakan bagaimana kondisi ini akan memengaruhi tegangan tali dan menyesuaikan penanganan secara real-time.
4. Komunikasi dan Kerja Sama Tim
Karena bekerja dalam tim kecil dengan pembagian tugas yang jelas, setiap anggota harus mampu berkoordinasi cepat, terutama dalam kondisi darurat seperti cuaca buruk atau kegagalan alat. Instruksi yang jelas dan respons yang cepat sering kali menjadi penentu antara insiden kecil dan kecelakaan besar.
5. Kedisiplinan terhadap Keselamatan Kerja (K3)
Penggunaan alat pelindung diri (APD) seperti sarung tangan tahan potong, helm, sepatu safety, dan rompi pelampung adalah kewajiban, bukan pilihan. Disiplin terhadap prosedur K3 menjadi lapisan pertahanan utama terhadap risiko kerja yang tinggi di bidang ini.
Peralatan Utama dalam Operasi Mooring & Unmooring
- Mooring line/wire rope – tali utama penambat kapal ke dermaga.
- Messenger line – tali pandu ringan untuk menarik tali utama.
- Bollard/bitt – tiang penambat di dermaga tempat tali dikaitkan.
- Capstan/winch – alat bantu menarik dan mengatur tegangan tali.
- Fender – peredam benturan antara lambung kapal dan dermaga.
- Radio VHF – alat komunikasi utama dengan kapal dan tugboat.
- APD (sarung tangan, helm, rompi pelampung, sepatu safety) – perlengkapan keselamatan wajib.
Baca juga: Peran Komunikasi Efektif dalam Operasi Mooring
Tahapan Proses Mooring dan Unmooring
Tahapan Mooring
- Persiapan alat: memeriksa kondisi tali, bolder, dan APD sebelum kapal tiba.
- Koordinasi awal: komunikasi dengan anjungan kapal mengenai rencana sandar dan posisi tali.
- Penerimaan messenger line dan penarikan tali utama ke bolder.
- Pengaturan tegangan tali sesuai instruksi dan kondisi lingkungan.
- Verifikasi akhir: memastikan kapal dalam posisi stabil dan aman untuk aktivitas bongkar muat.
Tahapan Unmooring
- Pemeriksaan kondisi: memastikan area kerja dan alat dalam keadaan siap.
- Koordinasi keberangkatan dengan anjungan kapal dan operator tugboat.
- Pelepasan tali secara bertahap, dimulai dari tali yang paling tidak kritis terhadap posisi kapal.
- Pemantauan pergerakan kapal hingga benar-benar terlepas dari dermaga.
Risiko Kerja yang Dihadapi Mooring Gang
Selain bahaya tali putus dan snap back, Mooring Gang juga menghadapi risiko terpeleset di dermaga yang licin, tertimpa peralatan, hingga bekerja dalam cuaca ekstrem seperti hujan lebat dan angin kencang. Karena itu, pemahaman prosedur darurat dan pelatihan penanganan insiden menjadi bagian tak terpisahkan dari kompetensi tim ini.
Baca juga: Cara Menjadi Mooring Master Profesional
Sertifikasi dan Peluang Karier
Mengingat tingginya risiko dan tanggung jawab pekerjaan ini, banyak pelabuhan, terutama yang berskala internasional mensyaratkan pekerja Mooring Gang memiliki sertifikasi kompetensi yang diakui secara nasional, seperti Sertifikasi BNSP. Sertifikasi ini menjadi bukti bahwa seseorang telah melalui pelatihan formal, memahami prosedur keselamatan, dan siap bekerja pada kondisi lapangan yang sesungguhnya.
Bagi yang ingin mendalami bidang ini secara profesional, Port Academy menyediakan program Pelatihan Mooring & Unmooring bersertifikasi BNSP, yang mencakup materi teori, praktik lapangan, hingga simulasi kondisi kerja nyata.
Kesimpulan

Mooring Gang memegang peran vital dalam menjaga keselamatan dan kelancaran operasional pelabuhan, meski pekerjaan mereka jarang terlihat oleh publik. Penguasaan teknik penanganan tali, kesadaran akan bahaya kerja, kemampuan membaca kondisi lingkungan, serta kedisiplinan terhadap K3 adalah fondasi yang membuat seorang anggota Mooring Gang benar-benar kompeten.
Baca juga: Peran Tug Boat dalam Proses Mooring dan Unmooring
Dengan mengikuti pelatihan dan sertifikasi yang tepat, pekerja di bidang ini tidak hanya meningkatkan keselamatan kerja, tetapi juga membuka peluang karier yang lebih luas, termasuk di pelabuhan-pelabuhan berskala internasional.










