Tugas dan Tanggung Jawab dalam Proses Mooring & Unmooring

Setiap kali kapal bersandar maupun bertolak dari dermaga, ada satu rangkaian kerja yang menentukan aman
tidaknya seluruh operasi: mooring dan unmooring. Prosesnya terlihat sederhana, mengikat dan melepas tali kapal, namun di baliknya ada koordinasi ketat antara kru kapal, tim darat, dan otoritas pelabuhan.

Artikel ini membahas secara rinci tugas dan tanggung jawab dalam proses mooring unmooring, mulai dari peran masing-masing personel, tahapan kerja, risiko yang mengintai, hingga standar kompetensi yang dibutuhkan untuk menjalankannya dengan aman.

Apa Itu Mooring dan Unmooring?

Mooring

Mooring adalah proses menambatkan kapal ke dermaga menggunakan tali tambat (mooring rope) yang dikaitkan pada bollard di darat dan bitt di kapal. Tujuannya menjaga posisi kapal tetap stabil selama bersandar, terlepas dari pengaruh arus, angin, maupun gelombang dari kapal lain yang lewat.

Unmooring

Unmooring adalah kebalikannya, proses melepas seluruh tali tambat secara bertahap dan terkendali sebelum
kapal berlayar. Urutan pelepasan tali harus mengikuti instruksi Mualim/Nakhoda agar kapal tidak bergeser tak
terkendali saat lepas sandar.

Secara umum, proses mooring dan unmooring dijalankan untuk:

  • Menjaga stabilitas dan posisi kapal selama bersandar di dermaga
  • Melindungi keselamatan kru, muatan, dan fasilitas pelabuhan
  • Mendukung kelancaran kegiatan bongkar muat
  • Memastikan kapal dapat berlayar kembali tanpa insiden

Baca juga: Peran Komunikasi Efektif dalam Operasi Mooring

Tugas dan Tanggung Jawab dalam Proses Mooring Unmooring

Tugas Utama dalam Proses Mooring Unmooring

Proses ini melibatkan beberapa peran dengan tanggung jawab yang berbeda namun saling terkait. Berikut rincian
tugas utama tiap pihak.

1. Tim Linesman (Tim Darat)

Tim linesman atau mooring gang adalah petugas di darat yang menangani tali secara langsung. Tugas mereka meliputi:

  • Menyiapkan dan memeriksa peralatan tambat, tali, winch, bollard, dan fairlead sebelum kapal sandar
  • Menerima lemparan tali (heaving line) dari kapal dan mengaitkannya ke bollard sesuai instruksi
  • Mengatur ketegangan tali agar kapal tetap pada posisi yang aman
  • Berkomunikasi dengan mualim jaga di kapal melalui radio atau isyarat tangan
  • Melepas tali secara bertahap dan terkoordinasi saat proses unmooring

2. Mooring Master

Mooring Master adalah perwira pelabuhan yang mengawasi dan mengarahkan keseluruhan proses sandar-lepas sandar, khususnya untuk kapal-kapal berukuran besar atau di terminal khusus seperti terminal minyak dan gas. Tanggung jawabnya mencakup:

  • Menentukan titik tambat dan pola pengikatan tali yang sesuai kondisi dermaga
  • Mengarahkan olah gerak kapal saat mendekati dermaga bersama Nakhoda dan Pandu
  • Memastikan seluruh tali terpasang sesuai standar sebelum kegiatan bongkar muat dimulai
  • Menghentikan proses bila kondisi cuaca atau teknis dinilai tidak aman

3. Nakhoda dan Perwira Jaga Kapal

Dari sisi kapal, Nakhoda dan perwira jaga bertanggung jawab atas:

  • Mengoperasikan mesin dan kemudi selama olah gerak mendekati atau meninggalkan dermaga
  • Memberi instruksi urutan pelepasan atau pengencangan tali kepada kru dek
  • Berkoordinasi dengan Pandu (Pilot) dan Mooring Master melalui komunikasi radio
  • Memantau posisi kapal terhadap dermaga dan kapal lain di sekitarnya

4. Winchman dan Operator Peralatan

Di kapal maupun di darat, operator winch bertugas:

  • Mengoperasikan winch atau capstan untuk menarik maupun mengulur tali sesuai perintah
  • Memastikan tali tidak terlalu kencang (overload) yang berisiko putus
  • Mengenali tanda-tanda tali akan slip atau aus sebelum terjadi kegagalan
Peran Lokasi Tanggung Jawab Utama
Tim Linesman Darat Mengikat/melepas tali, menjaga ketegangan tali
Mooring Master Darat Mengawasi dan mengarahkan seluruh proses tambat
Nakhoda & Perwira Jaga Kapal Olah gerak kapal, instruksi urutan tali
Winchman Kapal/Darat Mengoperasikan winch dan capstan

Tahapan Standar Proses Mooring dan Unmooring

  1. Persiapan – pengecekan peralatan, briefing keselamatan, dan penentuan titik tambat
  2. Pendekatan kapal – olah gerak kapal ke posisi sandar dengan arahan Pandu/Mooring Master
  3. Pengikatan tali – pelemparan heaving line, pengaitan tali utama ke bollard secara bertahap
  4. Konfirmasi kondisi aman – pengecekan ketegangan tali dan posisi kapal sebelum bongkar muat
  5. Pemantauan selama sandar – penyesuaian tali bila terjadi perubahan pasang surut atau cuaca
  6. Unmooring – pelepasan tali secara berurutan sesuai instruksi sebelum kapal berlayar

Baca juga: Cara Menjadi Mooring Master Profesional

Risiko dan Faktor Keselamatan

Bahaya yang Perlu Diwaspadai

  • Tali putus akibat tegangan berlebih (parted line)
  • Efek snap-back, tali yang menampar balik saat putus dan berpotensi fatal
  • Kesalahan komunikasi antara kru kapal dan tim darat
  • Kondisi cuaca ekstrem yang memengaruhi kestabilan kapal saat proses berlangsung

Peralatan dan Standar Keselamatan

  • Tali tambat (mooring rope) sesuai spesifikasi beban kerja kapal
  • Winch dan capstan yang terawat dan terkalibrasi
  • Bollard, chock, dan fairlead dalam kondisi baik
  • Alat pelindung diri, seperti helm, sarung tangan, dan sepatu safety

Peran Teknologi dalam Mooring & Unmooring Modern

Sejumlah pelabuhan modern kini mengandalkan teknologi untuk mengurangi risiko human error, di antaranya:

  • Automated mooring system, sistem tambat berbasis vakum atau magnet yang tidak lagi memerlukan tali konvensional
  • Sensor ketegangan tali yang memberi peringatan dini sebelum tali mencapai batas beban
  • CCTV dan pemantauan digital untuk mengawasi area dermaga secara real-time

Meski otomatisasi berkembang, pemahaman prosedur manual tetap menjadi dasar kompetensi yang wajib dikuasai
setiap personel mooring, karena tidak semua pelabuhan sudah beralih ke sistem otomatis.

Baca juga: Peran Tug Boat dalam Proses Mooring dan Unmooring

Sertifikasi sebagai Standar Kompetensi

Mengingat tingginya risiko pekerjaan ini, kompetensi personel mooring dan unmooring idealnya dibuktikan melalui
sertifikasi resmi, misalnya Sertifikasi BNSP yang menandakan seseorang telah lulus uji kompetensi sesuai standar nasional. Sertifikasi semacam ini biasa menjadi syarat sebelum seseorang dipercaya menjabat sebagai Mooring Master atau supervisor tim darat.

Bagi yang ingin memperdalam kompetensi ini secara terstruktur, Port Academy menyediakan program pelatihan dan sertifikasi Mooring & Unmooring yang mencakup teori, praktik lapangan, hingga studi kasus nyata di pelabuhan.

Kesimpulan

Pelatihan Training Diklat Mooring Unmooring - Port Academy

Tugas dan tanggung jawab dalam proses mooring unmooring bukan sekadar mengikat dan melepas tali, melainkan
rangkaian kerja yang menuntut koordinasi, kedisiplinan prosedur, dan pemahaman risiko dari setiap pihak yang
terlibat, mulai dari tim linesman, Mooring Master, hingga kru kapal.

Baca juga: Cara Menjadi Mooring Supervisor

Menguasai kompetensi ini secara formal, misalnya melalui Port Academy, menjadi langkah penting bagi siapa pun yang ingin berkarier di bidang operasional pelabuhan secara aman dan profesional.

FAQ